Laman

Senin, 22 April 2013

(Selamat Hari Kartini)


Mungkin ibu lebih kerap menelefon utk menanyakan keadaan kita setiap hari..Tapi tahukah kita, sebenarnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk menelefon kita?
Semasa kecil, ibu lah yg lebih sering
mendukung kita..Tapi tahukah kita bahwa sebaik saja ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih ayahlah selalu menanyakan apa yg kita lakukan seharian
Saat kita sakit demam, ayah sering membentak “sudah diberitahu! jangan minum es!”.Tapi tahukah kamu bahwa ayah sangat risau.??
Ketika kita remaja, kita meminta izin untk keluar malam. Ayah dengan tegas berkata “tidak boleh!”..Sadarkah kita bahwa ayah hanya ingin menjaga kita? Karena bagi ayah, kita adalah sesuatu yang sangat berharga.
Saat kita sudah di percayai, ayah pun melonggarkan peraturannya. Maka kita telah melanggar kepercayaannya…Maka ayah lah yang setia menunggu kita di ruang tamu dengan rasa sangat risau..
Setelah kita dewasa,ayah telah menghantar kita ke sekolah Univeritas Untuk belajar..
Di saat kita memerlukan ini-itu, untuk keperluan kuliah kita, ayah hanya mengerutkan dahi.tanpa menolak, beliau memenuhinya..Saat kamu berjaya..Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan bertepuk tangan untukmu..Ayah akan tersenyum dengan bangga..
Sampai ketika jodoh kita telah datang dan meminta izin untuk mengambil kita dari ayah..Ayah sangat berhati-hati mengizinkan nya..Dan akhirnya..Saat ayah melihat kita duduk di atas plamin bersama pasangan nya..ayah pun tersenyum bahagia..
Apa kita tahu,bahwa ayah sempat pergi ke belakang dan menangis?
Ayah menangis kerana ayah sangat bahagia..Dan dia pun berdoa “Ya Tuhan, tugasku telah selesai dgn baik..Bahagiakan lah putra putri kecilku yg manis bersama pasangannya”..
Setelah itu ayah hanya akan menunggu kedatangan kita bersama cucu-cucunya yg sesekali dtg untuk menjenguk..Dengan rambut yg memutih dan badan yang tak lagi kuat untuk menjaga kita..
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pernahkah kalian bertanya tentang ini pada Ayah?
Tentang apa saja mimpi-mimpinya,
apa saja yang membuatnya kecewa, bahagia?
Dan membuatnya tak enggan bekerja keras dari pagi hingga senja.
Kemudian malam harinya ia bagikan seluruh cintanya ke segala penjuru rumah,
bahkan menggaung hingga langit-langit rumah.
Tentu saja, cintanya sebesar cinta ibu, bahkan mungkin terlalu besar hingga tak tampak di seluruh penjuru Bumi.
Ia bagikan seluruh cinta pada anak-anaknya
Ia titipkan seluruh pengetahuannya
Ia selipkan seluruh doanya pada Tuhan di sepertiga malam
Kemudian ia simpan cinta itu di atas bantal tidur anak-anaknya
Membiarkannya menjadi mimpi paling indah yang akan terjadi di masa depan

Pernahkah kalian melihat peluh mengucur dari dahinya ketika menunggumu kembali ke rumah?
Atau melihat wajahnya tampak cemburu ketika teman lelakimu datang ke rumah?
Atau menangkap isyarat kecewa dan khawatir ketika lekuk tubuhmu diumbar?

Atau pernahkah kalian mendengar hasrat kalbunya,
untuk menjadikanmu lelaki tegar, meski kini tubuh Ayah rapuh termakan usia?
Atau pernahkah melihatnya tersenyum tulus dan terselip bangga,
ketika melihatmu tumbuh menjadi lelaki yang cita-citanya mengangkasa menjadi tentara-Nya yang tangguh?
Bagaimana pun kita, Ayah selalu berkata, “Dialah anakku.”


Selamat hari kartini! Semoga kartini kartini masa kini selalu sayang sama ayahnya!:) 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar